Selasa, 03 Januari 2012

“Peran Keluarga Dalam Pendidikan Etika Dan Budi Pekerti”

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Penegasan judul
Dari judul tersebut diatas, terdapat beberapa istilah yang perlu dijelaskan maksudnya. Fungsi dari penjelasan ini adalah untuk memberi penegasan agar tidak menimbulkan kekaburan atau salah pengertian, sehingga jelas ruang lingkupnya.
Yang perlu mendapat penjelasan adalah :
1.      Keluarga adalah tempat ideal penyemaian pendidikan budi pekerti. Dalam keluarga anak akan banyak belajar secara praktis melalui berlatih dan meniru budi pekerti orang disekitarnya, lebih – lebih meneladani orang tuanya.
2.      Menurut aristoteles(384-322 s.M.) etika berarti ilmu tentang apa yang biasa dilakukanatau ilmu tentang adat kebiasaan. Dalam kamus besar bahasa indonesia lama (poerwadarminta, sejak 1953) etika dijelaskan sebagai “ ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)”. Sedangkan menurut kamus besar bahasa indonesia baru (departemen pendidikan kebudayaan, 1988) etika dijelaskan dengan 3 arti salah satunya adalah nilai yang mengenahi benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
3.      Budi pekerti merupakan aneka ragam pengalaman peran berdasarkan situasi tertentu sehingga mampu mengatasi masalah budi pekerti atas prakarsanya sendiri secara bebas dan memiliki objek budi pekerti yang penting dan berguna bagi dirinya (Ninik indawati, 2009-10).

B.     Latar belakang
Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan, karena pendidikan dapat menciptakan manusia serta masyarakat pada umumnya menjadi masyarakat yang berintelektual dan bermoral tinggi. Seseorang yang bermoral sama halnya dengan seseorang yang memiliki etika yang baik sehingga mereka dapat menentukan mana yang harus dikerjakan dan yang harus ditinggalkan. Sedangkan seseorang yang berintelektual dapat memposisikan dirinya untuk mengembangkan IPTEK.  Hal ini dapat menciptakan integrasi sosial yang baik, seseorang yang memiliki intelektual, mereka akan selalu berfikir positif, obyektif, dan rasional.
Sistem pendidikan Indonesia menggaris bawahi tujuan pendidikan nasional adalah untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yakni manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkeperibadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, bertanggung jawab, profesional dan produktif serta sehat jasmani rohani. Tujuan ini sama dengan cita-cita pendidikan nasional, yang menurut Yumarna (2004 : 45) dapat diwujudka melelui 3 hal yaitu usaha pencerdasan, integritas keperibadian, dan pembentukan sikap. Dalam mewujudkan cita-cita pendidikan nasional tidak hanya berpegang pada lembaga pendidikan saja tapi lingkungan keluarga juga sangat mempengaruhi.
Keluarga dikenal sebagai lingkungan  pendidikan yang pertama dan utama. predikat ini mengidikasikan betapa esensialnya peran dan pengaruh lingkungan keluarga dalam perkembangan moral. Hal ini dikarenakan keluarga merupakan pihak yang paling awal yang memberikan perlakuan kepada anak. Ditegaskan oleh beberapa ahli  bahwa masa awal ini merupakan  masa terbentuknya struktur  kepribadian, pandangan tersebut mengimplikasikan bahwa perlakuan pada awal masa kehidupan dan itu terjadi pada lingkungan keluarga. Namun saat ini pendidikan  akhlak selalu di paksakan kepada bangsa ini hanya karena bangsa ini mempunyai masalah yang pelik. Barulah ada kesadaran bahwa pendidikan akhlak mulia sangat penting. Karena persoalan akhlak ada hubunganya dengan pendidikan maka banyak pihak yang mempercayakan  pendidikan akhlak hanya kepada lembaga pendidikan (sekolah-sekolah). Padahal pelajar (siswa atau mahasiswa) lebih banyak belajar dari keluarga.
Keluarga memberikan pendidikan nonformal pada anggota keluarganya sehingga masing-masing anggota keluarga dapat menunjukkan jati dirinya kepada masyarakat, apa yang telah dipelajari dalam lingkungan keluarga tersebut. Misalnya saja kedua orang tua telah mengajarkan anaknya untuk berjalan dengan sopan didepan orang yang lebih tua. Maka orang yang dihormati tersebut akan merasa senang dan bertanya - tanya tentang asal usul anak yang sopan tersebut diawali dari siapa orang tuanya, dimana rumahnya dan sekolahnya.
Dari latar belakang diatas masalah pembentukan keperibadian yang harus ditanamkan pada lingkungan keluarga masih harus dibahas untuk membentuk jati diri serta menunjukkan pribadi yang baik dari masing-masing individu. Oleh sebab itu penulis berminat melakukan pembahasan yang berjudul “Peran Keluarga Dalam Pendidikan Etika Dan Budi Pekerti”

C.    Rumusan Masalah
1.      Bagaimana peran keluarga dalam pengembangan pendidikan etika dan budi pekerti di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat?
2.      Bagaimana tingkah laku (etika) anak yang telah dibekali pendidikan moral oleh keluarga dan yang kurang dibekali pendidikan moral oleh keluarga?
D.    Tujuan Pembahasan
1.      Mendiskripsikan peran orang tua dalam mengembangkan moral anak di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
2.      mendiskripsikan perbedaan anak yang telah dibekali pendidikan moral oleh keluarga dan anak yang tidak atau kurang dibekali pendidikan moral oleh keluarga.
E.     Manfaat Pembahasan
Pembahasan ini bermanfaat untuk berbagai pihak diantaranya :
1.      Bagi orang tua
Memberi arahan terhadap orang tua untuk dapat membimbing ataupain mengarahkan putra putrinya tentang etika, moral dan budi pekerti. Sehingga dapat membentuk pribadi anak yang dapat berperilaku, bertutur kata, serta berfikir sesuai dengan nilai dan norma.
2.      Bagi pendidik (guru)
Dapat memberikan masukan tentang pengajaran bagi siswa atau mahasiswanya mengenahi masalah etika dan budi pekerti serta tingkah laku sosial yang menunjukkan jati dirinya.
3.      Bagi peserta didik
Etika dan budi pekerti digunakan untuk kehidupan bermasyarakan dengan harapan mewujudkan cita-cita bangsa yang bermoral.








BAB II
PEMBAHASAN
A.    Peran keluarga dalam mengembangkan moral anak
Keluarga adalah tempat ideal penyemaian pendidikan budi pekerti. Didalam keluarga anak akan banyak belajar secara praktis melalui berlatih dan meniru budi pekerti orang disekitarnya, lebih-lebih meneladani orang tuanya. Seperti halnya dikemukakan  Geertz (1985:151) bahwa didalam keluarga jawa berkambang nila-nilai tatakrama penghormatan yang mengarah pada penampilan sosial yang harmonis. Nilai-nilai tata krama ini akan dipelajari anak secara alamiah dalam keluarga.
Melalui pendidikan moral dalam keluarga yang menjadi basis awal budi pekerti, anak akan semakin sadar terhadap kehadiran dirinya di dunia. Namun, menurut Supriyoko (2000:5) ada hal yang perlu dicermati yakni ihwal normalitas keluarga akan berpengaruh terhadap perilaku sosial anak. Dalam keluarga normal (harmonis) anak akan cenderung berperilaku positif, sebaliknya pada keluarga yang tidak normal (rusak) anak akan cenderung berperilaku sosial negatif. Karena itu, keluarga memang tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial dan budi pekerti. Bahkan para pakar pendidikan juga banyak yang setuju, kalau pendidikan budi pekerti harus ditanamkan sejak anak memasuki masa peka (govoelige periode), antar 3,5 – 7 tahun.
Peran keluarga dalam mengembangkan moral anak sangatlah penting karena hal tersebut berpengaruh pada pembentukan moral dimasa depan. Orang tua sebagai peran utama dalam pembentukan moral. masing-masing orang tua berbeda cara dalam mengajarkan pendidikan moral. Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, orang tua mengikuti dan mengajaak anak-anaknya untuk datang ke pengajian bersama, supaya sang anak mendapatkan ilmu akhlak dan akidah tentang keagamaan karena hal ini dapat menciptakan etika dan budi pekerti yang baik. Orang tua memakai pakaian yang sopan dengan maksud mangajarkan kepada anak-anaknya untuk berpakain sopan didalam dan di luar rumah untuk memperlihatkan jati diri yang baik. Orang tua mengajarkan bersalaman kepada anak-anaknya sebelum mereka berangkat sekolah ataupun keluar rumah dengan maksud meminta izin (berpamitan) supaya dalam keluarga tercipta keteraturan.
Cara lain didalam mendidikan anak yang dilakukan oleh orang tua yaitu sering meluangkan waktu untuk berkumpul bersama, misalnya makan bersama, nonton TV bersama, dalam waktu yang bersama itu orang tua dapat memperingati anak-anaknya untuk berbuat dan berperilaku baik diluar dan didalam rumah selain itu sang anak juga dapat menceritakan keluh kesahnya ataupun hal-hal yang telah dialami di luar rumah kepada orang tua, sehingga anak merasa nyaman berada di rumah. Oarang tua terutama ayah sebagai kepala keluarga harus dapat menciptakan suasana rumah yang nyaman, baik, tenang, teraturan, dan saling hidup rukun. Supaya anak dapat merasakan kasih sayang didalam rumah dan menerima ajaran-ajaran moral yang telah diajarkan oleh orang tua dan dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari maupun kehidupan dimasyarat.
Orang tua tidak hanya memberikan pendidikan tata krama dan budi pekerti saja, melainkan harus memberi contoh kepada anak-anaknya supaya sang anak tidak hanya mendengar pesan-pesan dari orang tua tapi juga melihat dan memahami bahwa orang tua tidak hanya memerintah saja tetapi juga telah memberi contoh yang baik bagi dirinya. Hal ini diharapkan supaya anak dapat mengingat apa yang telah diajarkan orang tua kepada mereka sebagai anak.
B.     Karakteristik hubungan anak usia sekolah dengan keluarga
Masa usia sekolah dipandang sebagai masa untuk pertama kalinya anak memulai kehidupan sosial mereka yang sesungguhnya. Bersamaan dengan masuk anak ke sekolah dasar, maka terjadilah perubahan hubungan anak dengan orang tua. Perubahan tersebut diantaranya disebabkan adanya peningkatan penggunaan waktu yang dilewati anak bersama teman sebayanya. Sekalipun tidak menjadi subyek tunggal dalam pergaulan anak, orang tua tetap menjadi bagian penting karena mereka menjadi figur sentra dalam kehidupan anak. Maka dari itu orang tua tetap  menuntun anak menjadi bagian dari lingkungan sosial yang lebih luas. Teladan perilaku yang baik (seperti disiplin dan bermoral)  dapat mempertajam anak terhadap pendidikan di sekolah yang dihadapinya, sehingga anak akan semakin memahami kebutuhan dan perasaannya sekaligus kebutuhan dan perasaan oran lain.
Hubungan anak dengan orang tua akan berkembang dengan baik apabila kedua pihak saling memupuk keterbukaan. Berbicara dan mendengar merupakan hal yang sangat penting. Perkembangan yang dialami anak sama sekali bukan alasan untuk menghentikan kebiasaan-kebiasaan dimasa kecilnya. Hal ini justru akan membantu orang tua dalam menjaga terbukanya jalur komunikasi.
Sesuai dengan perkembangan kognitifnya yang semakin matang, maka pada usia sekolah, anak secara berangsur-angsur lebih banyak mempelajari sikap dan motifasi orang tua, serta memahami aturan keluarga sehingga mereka menjadi lebih mampu untuk mengendalikan tingkah lakunya. Perubahan ini mempunyai dampak besar terhadap kualitas hubungan antara anak-anak usia sekolah dengan orang tua mereka (dalam Siefert dan Hoffnung1994). Dalam hal ini orang tua merasakan pengontrolan dirinya terhadap tingka laku anak mereka berkurang dari waktu kewaktu dibandingkan pada tahun-tahun awal kehidupan mereka. Beberapa kendali dialihkan dari orang tua kepada anakanya, walaupun prosesnya secara bertahap dan merupakan koregulasi
Dengan demikian, meskipun terjadinya pengurangan pengawasan dari orang tua kepada anaknya selama sekolah dasar, bukan berarti orang tua sama sekali melepas mereka, sebaliknya orang tua masih terus memonitor usaha-usaha yang dilakukan anak dalam memelihara diri mereka sekalipun secara tidak langsung
Perubahan ini berperan dalam pembentukan stereotip pengasuhan dari orang tua sepanjang usia sekolah dasar. Dalam hal ini, pengasuhan hanya meliputi mengurus masalah makanan atau penerapan beberapa aturan saja.
C.    Akibat keluarga yang dekat dengan kehidupan anak dan keluarga yang jauh dengan kehidupanak
Pembentukan etika dan budi pekerti yang telah diajarkan oleh orang tua kepada anak  sangat berpengaruh terhadap keperibadian anak baik saat ini maupun dalam kehidupan anak dimasa mendatang. Misalnya saja, anak yang mendapat bimbingan etika dan budi pekerti dari orang tuanya semasa kecil, mereka akan hidup dimasyarakat dengan diikuti moral yang baik dan mereka akan dihormati dan dihargai oleh masyarakat karena akhlaknya sendiri dan perbuatannya sendiri. Berbeda dengan anak yang mulai kecil tidak di ajari atau dibimbing oleh etika dan budi pekerti oleh orang tuanya maka kehidupannya dimasyarakat kelak tidak akan merasa nyaman akibat perbuatannya karena sering di bicarakan oleh masyarakat akibat perbuatannya yang tidak disukai.
Oleh sebab itu peran orang tua terhadap perkembangan etika dan budi pekerti terhadap anak tidak hanya berpengaruh pada masa kanak-kanak saja tetapi juga pada masa mereka hidup bermasyarakat, etika dan budi pekerti sangat diperlukan . hal ini di maksud agar hubungan atau interaksi sosial dapat berjalan dengan baik. Peran orang tua sangatlah berpengaru terhadap perkembangan moral.
D.    Peran keluarga dalam pendidikan anak di masyarakat
Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenahi apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain (santrock, 1995). Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral (imoral). Tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan karena itu melalui pengalaman interaksi dengan orang lain, anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk yang tidak boleh dikerjakan.
Keluarga (orang tua) mendidik anak untuk berperilaku sopan kepada siapa saja yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda, diharapkan anak dapat bersosialisasi dengan masyarakat. Dimana masyarakat dalam hal ini yaitu kelompok dan lembaga, peran antara indifidu dalam berkelompok dan lain sebagainya.
Pada kelompok dan lembaga yaitu anak dapat menjalankan kegiatan berorganisasi dengan baik antar teman kelompok, bersifat demokrasi dan belajar saling menghargai. Sedangkan peran antara indifidu dalam berkelompok yaitu indifidu belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang bermoral, bijaksana dan adil. Ini semua dapat diwali dari lingkungan terkecil yaitu keluarga.






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Keluarga merupakan media sosialisasi pertama yang dapat membentuk jati diri anak. Jika keluarga dapat mensosialisasikan hal-hal yang baik (tutur kata, tingkah laku, agama, keperibadian dan lain sebagainya) maka anak akan tumbuh dan berkembang di masyarakat dan khususnya dalam keluarga menjadi anak yang baik pula, tetapi anak yang tumbuh dan dibesarkan pada keluarga yang tidak dapat mensosialisasikan nilai dan norma yang tidak baik dan juga jauh dari kasih sayang orang tua maka anak tersebut menjadi anak yang tidak dapat diperingati.
B.     Saran
Orang tua harus dapat membagi waktu dengan anak-anaknya di rumah paling tidak berada di meja makan bersama, karena pada saat itu keluarga dapat berkumpul berbagi keluh kesah selama mereka berada di luar rumah. Orang tua tidak hanya mengajarka pendidikan etika saja, melainkan harus memberikan contoh serta melakukan bersama-sama dengan anak misalnya : pergi beribadah sekeluarga.





1 komentar:

  1. Suatu pembahasan yang cukup lengkap Pendidikan etika anak dengan “Peran Keluarga Dalam Pendidikan Etika Dan Budi Pekerti” Seharusnya anak mengahiskan waktu sehari hari dengan keluarga di rumah. Oleh karena peran keluarga sangat besar dalam memberikan pendidikan budi pekerti kepada anak

    BalasHapus